Depresi Sebagai Faktor Resiko Terjadinya Penyakit Jantung Koroner

Oleh dr. Bagus Hery Kuncahyo

Di Amerika Serikat, 20% dari populasi memiliki riwayat gangguan depresi dalam hidupnya. Di Indonesia studi Proporsi Gangguan Jiwa oleh Direktorat Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan, dari 16 kota selama kurun waktu 1996-2000 menunjukkan gangguan disfungsi mental (kecemasan, depresi, dsb) sebanyak 16,2 %. Wanita lebih sering mengalami depresi dibandingkan pria (2,5 kalinya). Depresi bisa terjadi pada setiap umur tetapi paling banyak terjadi pada usia 25-44 tahun.

Penyebab depresi sangatlah kompleks, banyak faktor dapat terjadi bersama menyebabkan depresi. Perubahan neurotransmitter otak (norepinefrin, serotonin dan dopamin) dikatakan bertanggung jawab pada terjadinya depresi. Pada pasien dengan “bakat” depresi akan lebih rentan dalam menerima musibah (seperti kematian keluarga, sakit, kehilangan pekerjaan dll).

Seseorang dikatakan depresi bila didapatkan minimal 2 dari gejala berikut dalam waktu 2 minggu.

◦    perasaan tertekan/depresi sepanjang hari, hampir setiap hari

◦    kehilangan interes atau kesenangan terhadap hampir semua aktivitas

◦    berkurangnya berat badan secara signifikan, atau bertambah BB, dengan penurunan atau kenaikan nafsu makan hampir setiap hari

◦    insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari

◦    kemunduran psikomotor

◦    kelelahan atau kehilangan energi

◦    perasaan tidak berguna atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak semestinya

◦    tidak bisa konsentrasi berpikir, daya ingat menurun

◦    secara berulang berpikir tentang ingin mati atau bunuh diri, atau usaha bunuh diri

Depresi ternyata merupakan salah satu faktor resiko pada terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskular lainnya. Seperti telah diketahui bahwa penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian terbanyak di beberapa negara berkembang. Di Amerika Serikat penyakit jantung koroner bertanggung jawab terhadap sepertiga kematian pada usia diatas 35 tahun.

Tabel berikut ini menunjukkan peningkatan faktor resiko untuk terjadinya penyakit kardiovascular akibat depresi.

PENYAKIT KARDIOVASKULAR PENINGKATAN FAKTOR RESIKO AKIBAT DEPRESI
Hipertensi Meningkatkan 3x lipat angka kematian
Penyakit jantung koroner Meningkatkan 40% resiko terjadinya penyakit jantung
Nyeri dada (unstable angina) Meningkatkan 3x lipat angka kematian akibat jantung pada 1 tahun pertama
Post Infark Miokard Meningkatkan kematian 4-6 kali lipat

Studi lain menunjukkan bahwa depresi mayor menunjukkan faktor resiko yg sama beratnya dengan merokok dan diabetes.

Depresi sebenarnya dapat didiagnosa dengan mudah dan dapat diterapi secara aman pada pasien jantung. Depresi bila ditangani dengan baik dapat sembuh dalam 3 bulan, atau bisa sampai 6-12 bulan bila berat.

Tujuan pengobatan adalah menurunkan gejala depresi dan memfasilitasi pasien kembali ke kondisi normal. Pengonatan  depresi dapat dilakukan tanpa obat (psikoterapi dan Electroconvulsive Therapy) maupun dengan obat (anti depresan).

Dengan mengetahui bahwa depresi dapat meningkatkan terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskular lain, kita seharusnya dapat lebih waspada akan terjadinya depresi, terlebih bahwa ternyata diagnosa dan pengobatan depresi yang relatif mudah dapat mencegah kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskuler yang mematikan.

Sumber

Category: Uncategorized
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.