Dietary Approaches to Stop Hypertension ( DASH )

Oleh : dr. Arinta Setyasari Seff

Peningkatan tekanan darah merupakan suatu kondisi yang perlu diperhatikan dan memiliki resiko penting untuk timbulnya berbagai penyakit termasuk stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung dan gagal ginjal. Penelitian NHANES ( tahun 1999-2000) bahwa sebanyak 27% orang Amerika dewasa mengidap hipertensi dan meminum obat antihipertensi ( sistolik 140 mmHg dan diastolik 90mmHg ), sedangkan lainnya sebanyak 31% diketahui mengalami kondisi prehipertensi (sistolik 120-139 mmHg dan diastolik 80-89 mmHg dan tidak minum obat antihipertensi).

Setiap orang, tak terkecuali kita menginginkan hidup sehat untuk dapat menikmati panjang usia tanpa gangguan masalah kesehatan yang salah satunya adalah hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit yang sering ditemui seiring dengan meningkatnya usia. Pentingnya mengontrol penyakit ini perlu dilakukan, mengingat hipertensi adalah penyakit seumur hidup.

Tekanan darah sendiri bervariasi tergantung pada keadaan-keadaan tertentu, misal : meningkat saat aktivitas fisik, emosi, stress dan cenderung menurun saat tidur. Mengingat keadaan yang sangat bervariasi ini, maka dalam menegakkan diagnosa hipertensi diperlukan pengukuran yang berulang, setidaknya sebanyak tiga kali pada tiga kesempatan yang berbeda selama 4-6 minggu.

Terdapat beberapa faktor penyebab hipertensi, antara lain : Genetik, Geografi dan lingkungan,

Jenis kelamin, Natrium, Sistem renin angiotensin, Hiperaktivitas simpatis, Resistensi insulin, disfungsi sel endothel dan gaya hidup. Dalam tulisan kali ini akan dibahas secara khusus mengenai gaya hidup yang perlu dimodifikasi khususnya mengenai DASH ( Dietary Approaches to Stop Hypertension ).

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai DASH sebaiknya diketahui secara lebih mendalam apa yang dimaksud dengan modifikasi gaya hidup. Apakah yang dimaksud dengan modifikasi gaya hidup ? Modifikasi gaya hidup adalah merubah cara berfikir dan bersikap dalam menjalani kehidupan sehari-hari dalam hal ini yang berhubungan dengan hipertensi. Mengapa ini perlu dilakukan ? Karena terdapat beberapa hal penting dalam modifikasi gaya hidup itu sendiri yang antara lain bertujuan untuk :

  1. Menurunkan berat badan, karena dengan penurunan berat badan dapat menurunkan tensi.
  2. Mengurangi asupan garam dalam makanan.
  3. Meningkatkan asupan kalium kurang lebih sebanyak 120 mmol/hari atau 4,7 g/hari.
  4. Menghindari alkohol.
  5. Memilih diet atau makanan yang dapat mencegah hipertensi, yaitu berupa pilihan sayur-sayuran dan makanan rendah saturasi lemak serta rendah kolesterol.

1. Penurunan Berat Badan :

Dari berbagai study obsevasional dan dokumen penelitian klinis, diketahui bahwa berat badan berhubungan langsung dengan tekanan darah. Di USA hal ini sudah dibuktikan, bahwa sekitar 65% orang dewasa yang memiliki index massa tubuh 25 Kg/m2 diklassifikasikan sebagai overweight atau obese dan sekitar 30% memiliki IMT 30 Kg/m2, ternyata prevalensi obesitas yang meningkat ini seiring dengan peningkatan prevalensi hipertensi.

Percobaan klinis lanjutan mendokumentasikan bahwa penurunan berat badan berhubungan dengan penurunan tekanan darah. Bahwa rata-rata penurunan berat badan sebanyak 5,1 Kg dapat menurunkan tekanan darah 4,4 hingga 3,6 mmHg. Dan penurunan berat badan lebih banyak lagi, dapat lebih menurunkan tensi.. Bahkan dikatakan penurunan berat badan walaupun tanpa menurunkan asupan garam dapat mencegah kejadian stroke hingga 20% pada individu yang mengalami overweight dan prehipertensi.

2. Penurunan Asupan Garam :

Peningkatan asupan garam dalam diet ( makanan ) ternyata beriringan dengan peningkatan tekanan darah. Dari berbagai penelitian didapatkan data bahwa rata-rata penurunan natrium dalam urine sebanyak 1,8 g/hari ( 78 mmol ) dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik sebanyak 1.0 hingga 2,0 mmHg pada individu yang tidak hipertensi dan 2,7 hingga 5 mmHg pada seseorang pengidap hipertensi. Pada seseorang yang mengurangi asupan garam walaupun tidak menurunkan berat badannya dapat mencegah terjadinya hipertensi hingga 20 %. Adapun hasil beberapa penelitian observasional didapatkan data bahwa penurunan asupan garam dalam makanan dapat menurunkan resiko terjadinya proses atherosclerosis pada jantung dan pembuluh darah juga gagal jantung.

Respon peribahan tekanan darah terhadap asupan garam memang bervariasi, ada yang sensitive namun ada juga yang resisten ( tidak berespon ), namun demikian respon penurunan yang baik didapatkan pada ras kulit hitam, individu usia paruh baya, pengidap hipertensi dan diabetes, serta penderita penyakit ginjal kronis.

3. Peningkatan Asupan Kalium :

Tingginya asupan Kalium berhubungan dengan penurunan tekanan darah,pada seseorang yang nonhipertensi maupun pengidap hipertensi  hal ini sudah dibuktikan dengan berbagai data studi epidemiologi. Asupan Kalium yang telah diteliti memiliki jumlah yang bervariasi, antara lain : 1.3-1,4 g/hari atau 35-40 mmol. 3,3 g/hari dan jumlah yang lebih tinggi yaitu 84 mmol/hari. Peningkatan asupan kalium ini berespon baik pada ras kulit hitam dibandingkan kulit putih, bahkan beberapa penelitian membuktikan adanya respon yang langsung terhadap penurunan tensi.

Asupan tinggi kalium bisa didapatkan langsung dari makanan maupun tablet. Untuk asupan makanan tinggi kalium dapat bersumber dari sayuran dan buah. Asupan sayuran dan buah sebanyak 2100 Kcal/hari  menghasilkan 4,7 g/hari atau 120 mmol/hari Kalium.

4. Menghindari Alkohol :

Beberapa penelitian mencatat adanya hubungan langsung antara konsumsi alcohol dan tekanan darah. Sebuah penelitian met-analisis melaporkan bahwa penurunan konsumsi alcohol dengan range 76 % yaitu antara 16 5 sampai 100 %, menurunkan tekanan sistolik dan diastolik anatara 2,0-3,3 mmHg. Hasil ini diamati pada individu nonhipertensi juga penderita hipertensi. Dengan pembatasan  konsumsi alcohol 2 kali perhari pada pria dan sekali perhari pada wanita. Dengan catatan minuman berupa 12 0z bir ukuran sedang, atau 5 oz anggur ( kadar alcohol 12 % ) dan 1,5 oz 80-proof distilled spirits.

5. DASH Diet dan Pola makanan yang Berhubungan :

DASH sendiri secara signifikan menurunkan tekanan darah pada semua sub grup ( Pria, wanita, ras kulit hitam dan non kulit hitam, penderita hipertensi, dan non hipertensi ).Pola diet DASH terdapat beberapa macam terdiri dari : buah-buahan, sayuran, makanan rendah lemak, beras merah, biji2an, daging unggas, ikan dan kacang-kacangan disertai penurunan lemak, daging merah, pemanis dan gula dalam minuman, serta dipilihnya makanan yang kaya akan Kalium, magnesium, Kalsium, serat dan penurunan total lemak, lemak saturasi dan kolesterol, dengan penambahan protein dalam jumlah ringan. Dengan diet DASH terjadi penurunan secara signifikan rata-rata tekanan sistolik sekitar 5,5 mmHg dan diastolik 3,0 mmHg.

Pola diet kedua terdiri dari sayuran dan buah-buahan, juga terjadi penurunan signifikan dari tekanan darah, tetapi lebih sedikit disbanding metode diet DASH, dimana diet DASH berefek secara signifikan pada semua individu yang diteliti yaitu pada ras kulit hitam penurunan sistolik 6,9 mmHg dan diastolik 3,7 mmHg, pada ras kulit putih 3,3 dan 2,4 mmHg, pada penderita hipertensi terjadi penurunan 11,6 dan 5,3 mmHg, pada kelompok nonhipertensi.

Penelitian Omni Heart membandingkan efek 3 pola diet, yaitu : 1.Diet kaya karbohydrat (sebanyak 58% total kalori) 2. Diet kaya protein ( sekitar setengahnya ) 3. Diet kaya lemak unsaturasi (bdidominasi lemak mono-unsaturasi ). Serupa dengan DASH Diet Omni Heart menurunkan lemak saturasi dan kolesterol serta kaya akan buah, sayur, serat, potassium dan mineral lainyang kadarnya direkomendasikan. Ternyata komposisi ini menurunkan tekanan darah.

Diet DASH dan Omni Heart ternyata aman dan dapat diaplikasikan secara luas ke populasi, karena relative mengandung tinggi potassium dan fosfor serta protein, tapi pola diet ini tidak direkomendasikan untuk seorang penderita penyakit ginjal kronik stage 3 atau 4, atau dengan perkiraan laju filtrasi glomerulus sekitar 60 mL.

Kesimpulan :

Telah banyak penelitian yang dilakukan dan mensupport bukti adanya penurunan tekanan darah yang didukung pengaturan pola makan. Modifikasi makanan juga berefek pada penurunan berat badan, asupan garam, peningkatan asupan potassium ) Kalium ), penurunan konsumsi alkohol dan diet tersebut disebut DASH. Beberapa pola diet lain juga telah diteliti, tapi terbukti hanya sedikit menimbulkan efek positif.

 

Category: Uncategorized
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.