BERDEBAR-DEBAR, BIASA atau BERBAHAYA?

Oleh: dr. Lowry Yunita

Apa yang anda rasakan saat pertama kali berjumpa sesorang yang sedang anda taksir, atau saat dipanggil menghadap dosen atau guru yang terkenal galak dan killer? Apa yang anda rasakan saat menunggu suatu pengumuman, atau menunggu saat wawancara pekerjaan, atau bahkan menunggu saat harus tampil di depan banyak audiens, baik itu presentasi atau menyanyi? Mungkin jawaban yang muncul akan bervariasi, tapi hamper dipastikan ada yang menjawab, jantungnya deg-degan, alias berdebar-debar.

Apakah berdebar-debar itu sebenarnya? Dalam istilah kedokteran, berdebar-debar = palpitasi, yaitu suatu sensasi subjektif seseorang ketika dia sendiri dengan sadar merasakan jantungnya berdetak kencang sampai seperti memukul-mukul dadanya, bisa terasa cepat, lambat, tidak teratur, bahkan ada yang detak yang hilang, tanpa atau disertai rasa gugup,  Dapat merupakan respon normal terhadap suatu rangsang, misalnya kaget, marah, atau sebagai tanda adanya gangguan di jantung. Untuk itu perlu untuk dipahami benar, berdebar-debar seperti apa yang perlu diwaspadai oleh kita?

Palpitasi sebagai suatu manifestasi atau gejala, erat kaitannya dengan irama jantung itu sendiri. Jantung, merupakan suatu organ mekanik yang dipicu oleh listrik, yang akan mengatur irama jantung. Sumber utamanya adalah dari suatu titik di ruang serambi/atrium kanan jantung (SA Node), diteruskan ke AV Node, Berkas His, lalu ke Serabut Purkinye.

Apabila hantaran arusnya berjalan normal, akan menghasilkan kontraksi dan denyut jantung normal dengan frekuensi 60 – 100 kali/menit. Gangguan yang bisa terjadi, disebut disritmia, dapat berupa gangguan di pembentukan impuls listriknya (contoh : irama jantung menjadi lebih cepat atau lambat), atau gangguan penghantarannya (blok irama jantung), atau kombinasi keduanya. Salah satu gejala dari disritmia ini adalah palpitasi atau berdebar-debar tadi.

Faktor pencetus disritmia antara lain obat-obatan (misalnya golongan penenang, obat asma seperti teofilin, dan obat gagal jantung seperti digoksin), alkoholisme, gangguan keseimbangan elektrolit dan gas darah (keadaan kelebihan atau kekurangan kalium, asidosis), gagal jantung kongestif, serta tirotoksikosis (keadaan hiperfungsi dari kelenjar tiroid).

Jenis disritmia sendiri sangat banyak penggolongannya. Yang akan dibahas saat ini adalah yang paling sering terjadi di masyarakat dan menimbulkan keluhan berdebar-debar.

1. Atrial Fibrillation (Fibrilasi Atrium)

Kelainan irama yang terjadi akibat aktivasi elektrik, dan kontraksi di atrium yang tidak terorganisir. Dari uraian sebelumnya kita tahu bahwa aktivitas listrik di jantung dimulai pada sebuah titik (Nodus SA) yang letaknya di atrium kanan, yang kemudian menyebar ke seluruh atrium kanan dan kiri. Pada AF muncul sumber listrik selain nodus SA, yang paling sering yaitu di daerah vena pulmonalis (pembuluh darah vena yang keluar dari ventrikel kanan menuju ke paru-paru). Ketika focus listriknya banyak, membuat kontraksi atrium tidak berlangsung dengan baik, sehingga akhirnya atrium hanya seperti bergetar saja. Efek yang timbul tergantung dari respon entrikel, bisa lambat, normal, maupun cepat. Bila berlangsung dalam waktu lama tanpa diobati efek kemudian hari adalah lemas, pingsan, yang diakibatkan oleh pompa jantung yang tidak adekuat mencukupi kebutuhan tubuh.

AF merupakan disritmia yang paling sering membutuhkan pengobatan. Insidens dan prevalensinya meningkat seiring pertambahan usia, dimana <0.5% dari populasi yang mengalami AF berusia < 50 tahun, dan meningkat yakni sebesar 2% usia 60 – 69 tahun, 4.6% usia 70 – 79 tahun, dan 8.8% usia 80 -89 tahun. Akibat lain dari AF adalah terjadinya stroke, disebabkan karena turbulensi darah mendorong terbentuknya thrombus yang suatu saat akan terlepas menjadi emboli, yang apabila mengoklusi pembuluh darah di otak akan menimbulkan stroke, dimana pasien dengan AF yang tidak mendapat terapi anti koagulan akan meningkat risiko relative terkena stroke sebesar 17 kali lipat.

2. Supraventricular Tachycardia

Merupakan takiaritmia (gangguan irama dengan frekuensi denyut jantung lebih dari 100 kali/menit), dimana fokus listriknya berada di atas bifurkasio/percabangan berkas HIS.

3. Premature Ventricular Complex

Terjadi saat ventrikel mencetuskan impuls listrik sendiri sebelum irama utama dari atrium sampai di ventrikel sehingga timbul denyutan ventrikel yang lebih cepat dari irama utama.

Masih terdapat beraneka jenis aritmia atau disritmia, yang secara keseluruhan penegakan diagnosisnya adalah dengan dilakukan rekaman irama jantung / elektrokardigrafi.

Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa saat anda merasakan berdebar-debar, disertai gejala lain seperti lemas, keringat dingin, pusing, pening, sampai pingsan, maka sebaiknya periksakan diri anda ke dokter untuk memastikan apakah berdebar-debar tersebut adalah respon fisik normal atau sebagai tanda gangguan pada jantung yang memerlukan pengobatan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

Ungkapan “The Sooner The Better” adalah jauh lebih baik daripada “Better Late Than Never” dalam hal mendeteksi gangguan irama jantung. Karena itu, waspadalah, waspadalah!

References:

O’ Rourke, Walsh & Fuster. Manual of Cardiology. Mc. Graw hill. 2009:111-145

Rilantono LI, dkk. Buku Ajar Kardiologi. Balai Penerbit FK UI. 1996

 

 

Category: Uncategorized
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.