APA PERLU MINUM OBAT JANTUNG SEUMUR HIDUP ?

dr. Ikhwan Handi R

Kita sering mendengar ataupun mengetahui beberapa pasien penyakit jantung yang sering keluar masuk Rumah Sakit untuk menjalani rawat inap. Setelah menjalani pengobatan beberapa hari di Rumah Sakit pasien tersebut bisa pulih kondisinya, setelah pulang beberapa waktu kemudian gejala penyakit jantung seperti sesak atau nyeri dada terjadi lagi dan menjalani re-hospitalisasi. Hal ini bisa disebabkan karena memang derajat penyakit jantungnya sudah parah, mempunyai jenis penyakit katub jantung, terpapar infeksi kuman, dosis obat kurang adekuat atau karena salah satu faktor yang bisa dihindari yaitu obatnya tidak rutin diminum. Anggapan dan pemikiran pada penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner maupun gagal jantung tidak perlu minum obat lagi bila sudah tidak ada keluhan tidaklah bisa dibenarkan.

Beberapa penelitian  menunjukkan bahwa angka kepatuhan minum obat pada penderita penyakit jantung berpengaruh pada angka kejadian timbulnya serangan berulang yang membuat penderita menjalani perawatan kembali di rumah sakit. Penyakit jantung berkaitan dengan metabolisme.  Penyakit jantung darah tinggi, gagal jantung maupun penyakit jantung koroner  memerlukan obat-obatan untuk mengontrol proses metabolisme. Karena sifatnya mengontrol maka obat yang diberikan oleh dokter bisa untuk jangka waktu yang lama.

Penyakit darah tinggi berkaitan dengan produksi hormon Renin yang diproduksi ginjal, selain itu juga berkaitan dengan produksi protein angiotensin di hati  dan produksi  enzim ACE (Angiotensin Converting Enzym). Ketiganya berperan dalam pembentukan angiotensin II yang berfungsi sebagai vasokonstriktor yang menyebabkan peningkatan tekanan darah (hipertensi). Sesuai pedoman pengobatan hipertensi  yang diberikan para ahli dan dokter jantung  didunia pada JNC VII (Joint National CommitteeVII) di Amerika dan ESC (European Society of Cardiology) di Eropa, diperlukan modifikasi gaya hidup pada tahap awal dan selama berlangsungnya pengobatan. Obat yang diberikan bisa hanya 1 macam bila tekanan darah sistoliknya tidak lebih 160mmHg, tetapi bila lebih dari 160mmHg dokter bisa memberikan 2 sampai 3 macam obat. Obat ini bekerja dengan mempengaruhi produksi dan aktivitas hormon, protein maupun enzim sehingga terjadi proses vasodilatasi yang menurunkan tekanan darah. Modifikasi gaya hidup dengan cara makan makanan sehat, melakukan aktivitas fisik dan mengontrol berat badan sangat besar pengaruhnya pada keberhasilan pengobatan. Kerusakan di tingkat sel akibat hipertensi sangatlah hebat, jaringan endotel sebagai permukaan pembuluh darah yang menanggung dampak langsung dan pertama kali akibat tekanan yang tinggi. Secara mekanis fungsi perlindungan yang dimiliki jaringan endotel bisa menurun. Terapi obat yang diberikan oleh dokter tidak hanya semata-mata untuk menurunkan  tekanan darah saja tetapi juga untuk memperbaiki dan mempertahankan fungsi endotel di pembuluh darah. Oleh karena itu pengobatan untuk hipertensi bisa diperlukan untuk jangka waktu yang panjang. Bila obat tidak rutin diminum maka komplikasi tekanan darah tinggi berupa kerusakan organ target seperti jantung sebagai pompa darah, otak, ginjal dan organ penting lain yang dialiri darah akan semakin cepat terjadi.

Gagal Jantung adalah salah satu komplikasi dari penyakit hipertensi  yang kronik. Pada kondisi ini  jantung tidak mampu lagi memompa darah secara optimal akibat tekanan yang tinggi di pembuluh darah. Kompensasinya jantung akan mengalami pembesaran sehingga fungsi pompa jantung akan menurun. Apabila otot-otot jantung mengalami pembesaran maka keadaan ini bisa menjadi irreversibel atau sulit untuk mengembalikan fungsi otot jantung seperti keadaan awal. Peran pengobatan  disini adalah mengontrol tekanan darah dan  mempertahankan fungsi pompa jantung seoptimal mungkin dengan cara mencegah terjadinya re-modeling atau perubahan morfologi otot jantung. Jadi pada diagnosa gagal jantung, bisa diperlukan obat-obatan yang diminum seumur hidup. Bagaimana bila obatnya dihentikan bila pasien sudah merasa kondisi tubuhnya enak? Tekanan darah bisa tidak terkontrol dan kembali tinggi, kondisi ini akan membuat otot-otot jantung bekerja lebih keras dan semakin menebal akhirnya fungsi pompa jantung kembali terganggu.

Penyakit jantung koroner  yang ditandai nyeri dada atau angina seringkali kurang mendapatkan kewaspadaan. Faktor resiko hipertensi, dislipidemia, obesitas dan diabetes melitus seyogyanya menjadi acuan bagi masyarakat umum  dan tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan penunjang yang lebih lengkap untuk diagnosa pasien –pasien yang mengalami keluhan nyeri dada. Tersumbatnya aliran darah di pembuluh darah koroner  jantung dalam hitungan jam akan menyebabkan kerusakan otot jantung yang bermanifestasi ke nyeri dada. Kerusakan otot jantung akan menurunkan fungsi pompa jantung, menimbulkan aritmia atau gangguan irama denyut jantung dan akibat yang paling fatal adalah henti jantung. Oleh karena itu diagnosa dan penatalaksanaan penyakit jantung koroner harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Pengobatannya tidak hanya berupa  obat yang disuntikkan atau diminum saja, bisa juga diperlukan suatu tindakan operasi minimal invasif  atau cateterisasi pembuluh darah koroner untuk menghilangkan sumbatan atau pemasangan “stent” (ring) pada pembuluh darah koroner yang  mengalami penyempitan. Setelah melewati pengobatan fase akut, pasien penyakit jantung koroner bisa diberikan obat antitrombotik yang berfungsi untuk mencegah terjadinya sumbatan berulang di pembuluh darah koroner, oleh karena itu pemberian obat ini bisa seumur hidup.

Bagi tenaga medis, dokter maupun perawat seyogyanya tidak lupa untuk selalu memberikan informasi kepada pasien dengan kondisi-kondisi yang memerlukan terapi obat yang harus diminum dalam jangka waktu yang lama ataupun seumur hidupnya. Bagi pasien hendaknya juga harus menyadari dan mematuhi petunjuk tenaga medis demi kesehatannya.  Dan mari kita jaga pola makan, aktifitas dan berat badan agar kita yang masih diberi kesehatan tidak perlu minum obat seumur hidup!

Kepustakaan :

– Chobanian AV , Bakris GL , Black HR dkk. The Seventh Report

of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,

and Treatment of High Blood Pressure: the JNC 7 report .

JAMA 2003

– Lily , leonard dkk. Pathophysiology of Heart Disease A Collaborative Project of Medical Students and Faculty. Fifth Edition. Lipincot Willias & Wilkins. 2011.

 

Category: Uncategorized
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.